Mengatur isi layar yang dikonsumsi jadi langkah paling realistis saat media sosial mulai membuat kepala terasa penuh. APA menilai hubungan sosial berperan penting bagi kebahagiaan dan kesehatan mental, tetapi UNICEF juga mengingatkan bahwa ruang digital tetap membawa tantangan bagi emosi, pikiran, dan perilaku.
Karena itu, penggunaan media sosial tidak cukup hanya soal lama waktu yang dihabiskan. Yang lebih penting adalah bagaimana seseorang memilih konten, menjaga batas, dan memastikan platform online tidak berubah menjadi sumber tekanan yang terus-menerus.
Salah satu kebiasaan yang paling membantu adalah mengikuti topik yang memberi semangat. APA menyarankan pengguna memilih konten seputar aktivitas, seni, musik, nutrisi, atau tagar seperti #mindfulness, #selfcare, #bodypositivity, dan #dailypoet.
Konten yang dilihat setiap hari juga perlu dipilah dengan lebih sadar. Unggahan yang positif, membangun semangat, dan memunculkan rasa syukur dapat membantu suasana hati tetap lebih sehat saat berada di media sosial.
Selain itu, emosi di ruang digital tidak berdiri sendiri. APA menyebut penelitian pada pengguna Facebook menunjukkan adanya penularan emosi, sehingga ekspresi orang lain di platform digital dapat ikut memengaruhi perasaan, baik ke arah positif maupun negatif.
Media Sosial Perlu Diposisikan sebagai Alat, Bukan Pelarian
Media sosial tetap bisa memberi manfaat jika dipakai untuk memperkuat hubungan yang sudah ada dan membangun koneksi baru. Namun, pada sebagian orang, rasa kesepian justru meningkat ketika platform digital dipakai sebagai pelarian dari interaksi sosial.
Karena itu, perhatian tetap perlu diarahkan pada hubungan nyata yang benar-benar penting untuk dijaga. Terlalu sering mengamati kehidupan orang lain juga dapat memicu rasa kesepian dan ketidaknyamanan.
Dunia online sebaiknya tidak menggantikan hidup luring. Media sosial lebih tepat dipakai sebagai alat untuk mendukung hubungan sosial, bukan menjadi satu-satunya ruang berinteraksi.
Akun, Konten, dan Privasi Perlu Dipantau
Selektif terhadap informasi juga menjadi bagian penting dari kebiasaan digital yang sehat. APA mengimbau pengguna untuk kritis terhadap isi, sumber, dan kredibilitas informasi sebelum membagikannya agar ruang digital tidak dipenuhi konten yang menyesatkan.
Pengaturan privasi juga perlu diperiksa secara berkala. Langkah ini membantu pengguna mengetahui data apa saja yang dibagikan dan siapa yang bisa melihatnya, sehingga kendali atas keamanan akun dan informasi pribadi tetap terjaga.
Di saat yang sama, platform online juga bisa dimanfaatkan untuk hal yang lebih menenangkan dan produktif. Bentuknya bisa berupa aplikasi meditasi, alat belajar daring, kelas olahraga, atau konten positif yang membantu kesejahteraan dan pembangunan identitas diri.
Jangan Sampai Layar Menguras Tenaga Mental
Salah satu risiko yang perlu diwaspadai adalah doomscrolling. Pengguna perlu memahami bagaimana konten online memengaruhi emosi, pikiran, dan tindakan, lalu menetapkan batas pribadi agar waktu di media sosial tidak habis untuk konsumsi konten yang melelahkan mental.
Media sosial juga bisa dipakai sebagai ruang kreativitas. Platform digital dapat menjadi tempat berkarya, mengekspresikan diri, dan mengikuti akun atau tagar komunitas yang memberi inspirasi serta membantu perkembangan diri.
UNICEF menegaskan bahwa ruang digital memang membuka peluang untuk terhubung, belajar, dan berbagi hal penting. Namun, ruang ini tetap perlu dipakai dengan tanggung jawab agar manfaatnya terasa tanpa mengorbankan kesehatan mental.
Source: lifestyle.bisnis.com






