News

Sejarah, Jenis, Keunikan, Ciri Khas, Bentuk dan 2 Buku Terkait

Sejarah, Jenis, Keunikan, Ciri Khas, Bentuk dan 2 Buku Terkait

Sejarah

Seni rupa merupakan salah satu cabang seni yang sangat beragam. Sejarah seni rupa menurut para ahli dimulai sekitar 3,5 juta tahun yang lalu dengan seni lukis gua yang ditemukan di Prancis. Seni rupa ini mencakup berbagai bentuk dan jenis, mulai dari seni lukis, patung, instalasi, karya grafis, hingga seni digital.

Jenis

Seni rupa sendiri terbagi menjadi beberapa jenis, diantaranya adalah seni lukis, seni patung, seni arsitektur, seni grafis, seni instalasi, dan seni kriya. Setiap jenis seni rupa memiliki ciri khas masing-masing dan keunikan tersendiri.

Keunikan

Keunikan seni rupa terletak pada kemampuan seniman mengeluarkan kreativitasnya dalam bentuk visual. Hampir semua hal dapat dijadikan inspirasi dalam berkarya seni rupa, mulai dari objek alam, manusia, hingga keunikan dari imajinasi manusia itu sendiri. Seni rupa juga dapat menjadi media penyampaian pesan, ide dan gagasan, serta perasaan yang cenderung abstrak, sehingga setiap karya seni rupa dapat mengandung makna yang berbeda-beda tergantung dari interpretasi masing-masing orang.

Ciri Khas

Ciri khas dari seni rupa dapat dilihat dari segi teknik dan gaya penggambaran yang digunakan oleh seniman. Teknik dan gaya penggambaran yang berbeda ini mempengaruhi hasil karya menjadi memiliki ciri khas masing-masing. Misalnya pada seni lukis, terdapat teknik dan gaya kubisme, ekspresionisme, impresionisme, dan realisme. Begitu juga dengan seni patung yang memiliki gaya klasik, modern, atau abstrak.

Bentuk

Bentuk seni rupa dapat bermacam-macam, tergantung dari jenis seni rupa yang dihasilkan. Bentuk seni patung dapat berupa patung yang bersifat naturalistik, abstrak, atau karya seni dalam bentuk instalasi. Sementara pada seni lukis, bentuknya berupa lukisan pada media kanvas, kertas, ataupun objek lainnya seperti batu, kayu, ataupun potongan kayu. Begitu juga dengan seni grafis, bentuknya berupa cetakan pada kertas, sedangkan pada arsitektur, bentuknya berupa bangunan dan struktur lainnya.

2 Buku Terkait

Buku pertama yang dapat dijadikan referensi untuk mempelajari seni rupa adalah “Sejarah Seni Rupa Dunia” karya E.H. Gombrich. Buku ini membahas sejarah perkembangan seni rupa yang dimulai dari awal mula kebudayaan manusia hingga masa modern. Dalam buku ini, para pelajar dapat mempelajari beragam jenis seni rupa yang ada di dunia dan persebarannya di berbagai wilayah.

Buku kedua yang dapat dijadikan referensi adalah “1000 Ideas for Creative Reuse” karya Garth Johnson. Buku ini membahas tentang seni kriya dalam bentuk daur ulang dan kreativitas sebagai bagian dari seni rupa. Dalam buku ini, terdapat berbagai inspirasi dan ide-ide tentang karya seni dari bahan-bahan yang dianggap tidak terpakai, seperti botol minuman, kain bekas, ataupun limbah kayu.

Kesimpulan

Seni rupa merupakan cabang seni yang sangat beragam dan memiliki banyak jenis, ciri khas, dan keunikan. Dalam mempelajari seni rupa, perlu mengetahui sejarah, jenis, ciri khas, bentuk dan variasinya. Dengan mempelajari seni rupa, kita dapat melihat keunikan dan kemampuan manusia dalam melukiskan kreativitasnya dalam bentuk yang berbeda-beda. Dua buku terkait, “Sejarah Seni Rupa Dunia” dan “1000 Ideas for Creative Reuse”, dapat menjadi referensi pelajar untuk mempelajari seni rupa.

Sejarah, Jenis, Keunikan, Ciri Khas, Bentuk dan 2 Buku Terkait

Tahukah Kamu Joglo berasal dari kata Tajug Loro (Juglo) yang bermakna dua gunung. Dalam filosofi Jawa sendiri gunung merupakan tempat yang tinggi dan sakral. Atap rumah Joglo yang berbentuk dua gunung.

Namun dalam setiap perkembangannya, penyebutan kata Joglo kemudian berubah menjadi Joglo. Seiring dengan berkembangnya zaman, kini rumah Joglo sendiri dapat dibangun oleh berbagai kalangan dan kerap digunakan pada Gedung perkantoran atau pemerintahan.

Jenis Rumah Adat Joglo

Rumah Joglo Sinom

Rumah Joglo Sinom sebagai salah satu jenis rumah joglo. Rumah adat Indonesia ini merupakan pengembangan dari Rumah Joglo dengan teras keliling. Ciri khasnya dari rumah joglo ini, yaitu dilengkapi dengan 36 saka atau tiang, di mana empat di antaranya merupakan saka guru atau tiang besar utama. Sementara pada bagian atapnya, Rumah Joglo Sinom sendiri memiliki sisi yang kemudian dibagi ke dalam beberapa bagian dengan tiga tingkatan dengan satu bubungan.

Rumah Adat Limasan

Rumah Adat Limasan memiliki bentuk atap seperti bentuk limas. Rumah adat ini juga memiliki empat sisi pada area atapnya. Desain rumah adat ini terkenal sangat sederhana namun terlihat sangat cantik. Kelebihan dari rumah adat ini adalah sifatnya yang mampu meredam sebuah bencana gempa bumi.

Rumah adat ini juga memiliki ciri khas penggunaan konstruksi yang kokoh pada bagian atasnya serta memiliki lengkung yang terpisah antara setiap ruangan. Rumah adat Limasan sendiri di bangun dengan empat tiang utama. Bangunan tradisional ini juga memanfaatkan banyak elemen-elemen natural di dalamnya.

Sementara untuk kemampuannya dalam meredam bencana gempa bumi karena struktur yang digunakan. Struktur limasan sendiri dapat berupa rangka yang kemudian memperlihatkan batang kayu. Sambungan dan sistem tumpuan rumah adat ini mampu meredam sebuah goncangan.

Sistem tumpuannya berbentuk sebuah sendi yang berfungsi mengimbangi struktur atas bersifat jepit. Sambungannya sendiri tidak menggunakan paku sebaliknya hanya menggunakan lidah alur yang mampu menopang gaya pada batang kayu tersebut. Toleransi ini kemudian akan menimbulkan sebuah friksi, sehingga daya bangunannya kemudian akan lebih akomodatif untuk menerima gaya gempa.

Terdapat beberapa jenis dari rumah adat limasan ini yakni Limasan Lambang Gantung, Limasan Lambing Sari, Limasan Lambang Teplok, Limasan Gajah Ngombe, Limasan Trajumas, Limasan Semar Tinandu, serta Limasan Lambang Gantung Rangka Kutuk Ngambang.

Baca Juga:  Download Slither Io Mod Apk Terbaru 2023 [Kebal & Anti Mati]

Rumah Joglo Pangrawit

Rumah Joglo Pangrawit memiliki ciri khas atap berbentuk kubah dengan lambang gantung. Pada setiap sudut Rumah Joglo Pangrawit, juga terdapat saka atau adanya tiang. Desain arsitektur Rumah Joglo Pangrawit sendiri kerap digunakan pada rumah-rumah modern sehingga rasanya tak asing lagi dengan bentuk rumah joglo ini.

Rumah Joglo Jompongan

Rumah Joglo Jompongan memiliki karakter atap dengan dua susunan berbentuk bubungan yang dibuat memanjang ke kiri dan kanan. Selain itu, Rumah Joglo Jompongan juga memiliki keunikan tersendiri berupa denal lantai berbentuk bujur sangkar, dan penggunaan pintu. Desain keseluruhan dari rumah joglo jompongan sendiri tampak lebih sederhana dibanding Rumah Joglo lainnya, jenis rumah ini sendiri tidak menggunakan banyak ornamen atau hiasan di area atapnya.

Rumah Joglo Mangkurat

Rumah Joglo Mangkurat juga memiliki ciri khas tersendiri. Pada area atap Rumah Joglo Mangkurat, terdapat tiga susunan tingkatan dengan kemiringan yang beragam atau berbeda-beda. Sementara itu, pada bagian tengah atap dari Rumah Joglo ini biasanya dibuat lebih tinggi.

Rumah Joglo Hangeng

Rumah Joglo Hangeng Jika dibanding Rumah Joglo Mangkurat maupun Pangrawit, model ini memiliki ukuran atap utama yang terbesar di banding rumah joglo lainnya. Selain itu, Rumah Joglo Hangeng ini juga dilengkapi dengan tratak keliling sehingga kemudian menciptakan kesan megah layaknya pada sebuah istana.

Rumah Joglo Lawakan

Pada rumah joglo lawakan memiliki dua tingkatan dengan ciri model atap dengan kesan sederhana. Rumah Joglo Lawakan ini juga dilengkapi dengan atap bagian bawah yang bentuknya landai, dan lebar dengan bagian atas yang dibuat meruncing.

Rumah Joglo Panggang Pe

Rumah Joglo Panggang Pe sebelumnya kerap difungsikan sebagai tempat tinggal serta warung. Selain itu, Rumah Joglo ini juga memiliki ciri empat hingga enam buah saka serta terbagi menjadi berbagai jenis, seperti Gedhang Salirang, Trajumas, Empyak Setangkep, Gedhang Setangkep, Barengan, dan Cere Gancet.

Rumah Adat Kampong

Rumah adat kampong sebagai salah satu rumah bagi masyarakat yang berada di suku Jawa dari kalangan menengah ke bawah. Sehingga, di daerah-daerah pedesaan masih cukup mudah untuk ditemukan. Rumah ini mempunyai bentuk yang hampir sama dengan rumah adat panggang pe yang disatukan.

Hanya saja terdapat dua teras didepan dan belakang rumah. Ciri khusus yang ada pada rumah kampung yaitu tiang yang berjumlah kelipatan 4, misalnya dari 8, 12, 16 dan seterusnya.

Model dari rumah kampung yaitu bangunan standard yang dapat dimodifikasi jadi bentuk lain atau dapat dikombinasikan dengan model baru yang lebih klasik. Bentuk atap dari rumah ini yaitu segitiga yang apabila dilihat dari sisi samping dengan atap tersebut, ada sebuah penghubung yang menggunakan “wuwungan” atau “bubungan”.

Keseluruhan dari struktur rumah ini menggunakan tiang penyangga yang berupa balok, usuk, atau kayu reng dari pohon jati atau dari kayu lain yang sama kuatnya seperti pohon nangka, mahoni, dan lain sebagainya.

Rumah kampug adalah sebuah rumah adat jawa tengah yang dimiliki oleh masyarakat biasa. Rumah kampung mempunyai beberapa jenis yaitu kampung pokok, dara gepak, pacul gowang, lambing teplok, cere gancet, dan juga apitan.

 

Keunikan Rumah Joglo

Joglo merupakan rumah tradisional masyarakat Jawa. Bangunan rumah adat Joglo umumnya terdiri atas 4 tiang utama. Rumah tradisional Jawa sendiri terbagi menjadi dua bagian, yakni rumah tambahan dan rumah induk. Rumah induk terdiri dari beberapa bagian mulai dari Pendopo yang terletak di depan rumah, selain itu Pringgitan, Emperan, Omah dalem, Senthong-kiwa, Senthong tengah, Senthong-tengen dan Gandhok. Berikut ini beberapa ciri khas serta keunikan dari rumah adat joglo:

Arsitektur Bangunan yang Khas

Ciri khas rumah adat joglo sendiri dimulai dari bentuk arsitekturnya, ruang pada bagian dalamnya, hingga fungsi spesifik pada setiap area bangunan rumahnya tersebut. Terlebih lagi, rumah adat joglo kerap menerapkan nilai-nilai filosofi jawa pada setiap area rumahnya.

Memiliki Teras dengan Ukuran yang Luas

Rumah adat Joglo telah dibangun dengan teras rumah yang sengaja didesain dengan cukup luas dan tidak menggunakan sekat. Bentuk dari teras ini juga sama halnya dengan yang ada di rumah adat jawa tengah lain karena memiliki fungsinya tersendiri, misalnya sebagai sebuah tempat berinteraksi atau bersilaturahmi di antara keluarga atau penghuni rumah dengan masyarakat sekitar.

Memiliki Jumlah Penyangga 4 Tiang

Setiap rumah joglo, berapapun jumlah tiang yang digunakan secara keseluruhan, akan tetap memiliki empat tiang utama atau biasa disebut juga dengan “ saka guru”. Saka guru sendiri kemudian menjadi sebuah pondasi penegak dan pondasi utama yang kemudian dapat menopang keseluruhan bangunan dari rumah joglo.

Dilengkapi dengan Jendela Berukuran Besar

Keunikan selanjutnya dari Rumah Adat Joglo, adalah adanya jendela besar dengan jumlah yang banyak. Model dari jendela besar ini merupakan suatu warisan dari kolonial Belanda yang kemudian dikombinasikan dengan arsitektur khas dari daerah jawa. Secara keseluruhan jumlah jendela pada rumah joglo dari depan hingga ke belakang dapat mencapai puluhan.

Pintu Utama Terletak di Tengah

Pintu rumah joglo cukup berbeda dibanding rumah lainnya, sebab menjadi salah satu ciri khas lain yang menonjol dan menjadi sebuah elemen pembeda sebab pintu utamanya terletak pada bagian tengah rumah yang kemudian dibangun sejajar dengan ruangan di bagian belakang rumah. Filosofi dibalik hal ini adalah untuk menggambarkan kedekatan dan keterbukaan antara penghuni rumah dengan seorang tamu.

Pager Mangkok

Pagar atau pagar tidak terbuat dari bambu pada umumnya. Pagar dari rumah joglo ini sendiri terbuat dari tanaman yang kemudian mempunyai ketinggian tidak lebih dari 1 meter yang kemudian dapat mempermudah interaksi antar setiap orang.

Menggambarkan Status Sosial

Secara tidak langsung, kehadiran rumah joglo sendiri dapat menggambarkan status sosial pemiliknya. Untuk biaya pembuatannya sendiri cukup mahal karena penggunaan material yang cukup mahal dan banyak, misalnya saja pada penggunaan kayu jati. Oleh karenanya kebanyakan dari pemilik rumah joglo dapat dipastikan merupakan orang-orang dengan status sosial dan status ekonomi menengah keatas.

Baca Juga:  Download Yacine TV APK Full Update Terbaru 2023 [Gratis]

 

Filosofi Rumah Adat Joglo

Rumah adat Joglo terdiri dari 2 kata yaitu “Tajung” dan kata “Loro” artinya menggabungkan dua tanjung. Sementara untuk tajug sendiri adalah bentuk atap berbentuk piramida. Masyarakat di jawa sendiri memilih tajug sebagai model atap rumah ini, dikarenakan bentuknya yang mirip sama dengan bentuk gunung. Zaman dahulu sendiri gunung kemudian telah dianggap sebagai salah satu tempat yang sakral oleh masyarakat yang hidup pada zaman tersebut. Filosofi Rumah Adat Joglo dengan pondasi utamanya untuk menopang semua bagian bangunan. Terasnya biasanya luas dan tanpa sekat untuk menjalin silaturahmi bersama tetangga serta dijadikan untuk sarana interaksi sosial bersama masyarakat setempat.

Setiap hunian Joglo juga dilengkapi dengan jendela berukuran besar yang banyak. Pintu rumah Joglo umumnya berada di tengah ruangan. Filosofinya adalah menggambarkan tentang keharmonisan dan keterbukaan antar pemilik rumah serta orang lain.

Ada pagar mangkok pada hunian ini berasal dari tanaman perdu. Dimana tingginya tidak sampai 1 meter. Filosofinya adalah supaya bisa berinteraksi dengan tetangga lebih mudah. Setiap hunian Joglo selalu menggambarkan status sosial pemilik rumahnya.

Itu karena biaya pembuatannya mahal, sehingga hal tersebut dijadikan sebagai gambaran status sosial dan ekonomi pemilik rumah yang merupakan kalangan menengah ke atas

 

Contoh Gambar Rumah Adat Joglo dan Penjelasanny

sumber: animanama

Fungsi Rumah Adat Joglo pada setiap Ruangan yang ada di rumah pastinya memiliki fungsi tersendiri. Berikut ini adalah fungsi dari setiap ruangan yang ada di rumah joglo.

  • Pendapa: Ruangan pendopo berada di bagian depan rumah. Meski demikian ruang ini tidak dapat dimasuki oleh sembarang orang yang ingin masuk ke rumah karena terdapat jalan tersendiri. Ruangan ini kemudian difungsikan juga untuk menggelar berbagai kegiatan formal seperti pada sebuah pertemuan, pagelaran seni, dan upacara adat.
  • Pringitan: Pada ruangan yang terletak di antara pendopo dan rumah bagian dalam atau omah njero. Ruangan ini kemudian memiliki fungsi yang hampir sama dengan ruang pendapa yaitu menggelar sebuah pertunjukan seni. Namun yang menjadi perbedaannya ruangan ini kemudian dapat dijadikan sebagai jalur masuk rumah adat joglo.
  • Emperan: Ruangan rumah adat joglo selanjutnya disebut dengan emperan dan menjadi ruang perantara bagi pringgitan dan omah njero. Di dalam ruangan ini umumnya terdapat dua buah kursi kayu serta meja yang dapat digunakan untuk menyambut tamu. Inilah ruangan yang dapat digunakan untuk menerima tamu, bersantai, maupun untuk menggelar kegiatan umum lainnya.
  • Omah Njero – Omah njero atau omah mburi, atau omah ageng bermakna rumah bagian dalam. Secara spesifik “omah” dalam bahasa jawa artinya hal-hal domestik, oleh karena itu fungsinya pun menjadi berbeda. Fungsi spesifik dari omah njero adalah sebagai tempat tinggal pada rumah adat joglo.
  • Senthong Kiwa – Terdapat pada bagian sebelah kanan rumah, ruangan ini kemudian mempunyai beberapa ruangan di dalamnya. Beberapa ruangan tersebut mempunyai fungsi tertentu yang berbeda antara yang satu dengan yang lainnya. Beberapa di antaranya dapat digunakan untuk gudang, ruang penyimpanan makanan, kamar tidur, dan fungsi lainnya. Senthong juga merupakan salah satu kosakata jawa yang digunakan untuk menyebutkan kamar tidur. Kata senthong ini juga tidak lazim lagi di masyarakat Jawa, khususnya Jawa Tengah. Kata “kamar” sendiri kemudian lebih akrab mereka gunakan sebagai ganti kata “senthong”.
  • Senthong Tengah – Seperti namanya senthong tengah pada rumah adat joglo, tempat ini berada pada bagian tengah di dalam rumah joglo. Istilah lain yang menyebutkan bagian rumah ini sebagai boma, pedaringan, dan krobongan. Fungsi utama dari rumah adat joglo ini kemudian dapat menyimpan berbagai benda pusaka milik keluarga karena letaknya jauh dari dalam rumah tersebut. Lalu apa yang membedakan senthong dengan kamar (bilik)? Senthong sendiri merupakan tempat khusus bagi penghuni rumah untuk melaksanakan berbagai upacara sembahyang atau tempat untuk meditasi. Sementara kebanyakan kamar (bilik) hanya difungsikan sebagai tempat tidur.
  • Senthong Tengen – Untuk ruangan senthong tengen pada rumah adat joglo tidak jauh berbeda dengan senthong kiwa baik itu perbedaan dari fungsi maupun pembagian ruangan pada rumah adat joglo.
  • Gandhok – Gandhok merupakan ruangan tambahan yang terletak di sekeliling sisi samping atau belakang bangunan utama rumah joglo tersebut. Ruang ini kemudian hanya dapat digunakan untuk keperluan-keperluan tambahan yang tidak dapat diakomodai oleh rumah utama tersebut.

 

Rekomendasi Buku Terkait Rumah Adat Joglo, diantaranya:

Ensiklopedia mini : Rumah-rumah adat nusantara

Rumah adat bagi bangsa Indonesia sebagai ciri khas tiap-tiap suku daerah. Hal Ini merupakan salah satu bukti bahwa kebudayaan kita sungguh sangat beraneka ragam. Namun meski berbeda-beda bukan berarti terpecah belah, melainkan justru Bersatu dalam kesatuan yang kokoh dengan keanekaragaman suku adat budaya masyarakat Indonesia atau lebih kita kenal juga dengan Bhineka Tunggal Ika. Bangunan rumah adat sendiri kerap dipelajari nilai manfaat bagi generasi sekarang dan yang akan datang. Meski demikian, kini rumah-rumah adat nusantara nyaris terlupakan karena masyarakat cenderung membuat rumah dengan model baru yang lebih modern. Pemerintah kemudian membangun miniatur rumah-rumah adat di taman mini indonesia indah, jakarta. Lebih lengkap tentang ebook ini, miliki sekarang, klik di sini

SD Kelas 2 Senang Belajar PKN Sesuai Standar Isi 2006 KTSP

Pendidikan Kewarganegaraan (PKN) untuk SD/MI kelas 2 yang diterbitkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia. Berikut rangkuman materi pelajaran PKN kelas 2 SD secara lengkap. Miliki Buku pelajaran ini, klik di sini.

Demikian review tentang Rumah Adat Joglo: Sejarah, Jenis, Bagian, Keunikan, Filosofi, dan Gambar serta Penjelasannya. Semoga bermanfaat!

Rekomendasi Buku & Artikel Terkait

Sumber: dari berbagai sumber